Sun Rise of Java adalah nama lain dari kota paling ujung timur di pulau jawa yaitu BANYUWANGI di sini saya akan memperkenalkan tentang semua kebudayaan makanan tempat wisata dan kelebihan lainya yang ada di Banyuwangi. Karena saya berasal dari Banyuwangi maka saya akan mengeksplor total tentang kabupaten ini.
KEBUDAYAAN DARI BANYUWANGI
TARI GANDRUNG
Tari penyambutan selamat datang di Banyuwangi. Awalnya tarian ini dibawakan oleh seorang laki-laki namun seiring perkembangan jaman tarian ini bawakan oleh perempuan karena kaum hawa banyak yang tertarik untuk membawakan tarian ini dan dibawah ini adalah contoh gambar dari penari gandrung
Sebenarnya tarian di Banyuwangi ada banyak seperti : sabuk mangir, jaran goyang, rodath si'iran, cengkir gading.
sumber :http://img.jakp.st/new/trvl/pn522/YMp5vxWZ3Uyg4lGc/6hqozr11010k4s4cw08gk8gsc.JPG
https://puetraghiel.files.wordpress.com/2014/02/gandrung3.jpg
BANYUWANGI ETNHO CARNIVAL
BEC adalah festival budaya yang digelar taunan di Banyuwangi, berikut adalah contoh gambar dari pagelaran BEC tahun lalu.
sumber : http://img.jakp.st/new/trvl/pn522/YMp5vxWZ3Uyg4lGc/6hqozr11010k4s4cw08gk8gsc.JPG
http://img.jakp.st/new/trvl/pn522/YMp5vxWZ3Uyg4lGc/6hqozr11010k4s4cw08gk8gsc.JPG
KEBO-KEBOAN
Ritual
yang meminta berkah keselamatan sebelum memulai musim tanam padi itu
dimulai berbagai persiapan seperti memasang pintu gerbang terbuat dari
hasil bumi, hingga menanam segala jenis pohon di tengah jalan. Tanaman
inilah yang akan dilewati kerbau jadi-jadian. Pohon ditanam di sepanjang
jalan menuju empat arah mata angin yang mengelilingi desa.
Bermacam
tanaman hasil bumi menghiasai di tiap jalan kampung, sebagai simbol
ungkapan syukur kepada penguasa alam Untuk mendapat kesan suasana
persawahan, jalan desa pun dialiri air yang berasal dari sungai
setempat. 12 tumpeng, simbol waktu perputaran kehidupan manusia yang
disajikan dinikmati bersama-sama.
Berbagai
pernik ornamen hiasan sudah terpajang, umbul-umbul, killing
(baling-baling kicir angin), paglak (dangau tinggi di tengah sawah)
terlihat megah di hamparan sawah dengan latar belakang Pegunungan Raung,
Ijen, dan Gunung Merapi. Semua warga desa sudah siap dengan kue tradisional serta sesaji untuk upacara ritual. Hampir semua orang tampak anggun dengan busana adatnya.
Warga
menyambut ritual ini mirip perayaan hari raya. Hari pelaksanaan upacara
dihitung menggunakan kalender Jawa kuno. Biasanya kepastian itu
diputuskan para sesepuh adat. Pada hari pelaksanaan, seluruh warga
membuat tumpeng ayam.
Sesajen ini dimasak secara tradisional khas suku Using, yakni pecel ayam, daging ayam dibakar dan dicampur urap kelapa muda.
Menjelang
siang hari, warga berkumpul di depan rumah masing-masing. Beberapa
orang bergerombol di pusat desa bersama para pejabat dan undangan.
Dipimpin sesepuh adat, warga berdoa menggunakan bahasa Using kuno. Usai
berdoa, warga berebut menyantap tumpeng yang diyakini mampu memberikan
berkah keselamatan.
sumber:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4PGNSUeaMZF8YLltLSBgb6d8Xjcksnwv46WSVzCH9ysC5iYIP-7Ex4J5NmkI0KOZ6QSaICmBQrB3dyb_lswbk20qRWyGdcibzZZ5PMmaCjg-MdjBnOawS3cIWzHuhV68fyxz0a4WajQff/s1600/kebo-keboan+2.jpg
PETIK LAUT
Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu sesaji dilarung ke laut.
Perahu
diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak
keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan
buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi
disebut gitek.
Pada
hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat
sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata
clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai.
Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi
gamelan Gandrung mengalun indah.
Nelayan
menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa
abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning
simbol tolak bala.
Ribuan
warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi
). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai.
Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ), yang dihadiri
jajaran Muspida Banyuwangi dan pejabat setempat.
Sesaji
tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju
perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun,
petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.
Sebelum
diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah
kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan
melimpah.
Menjelang
tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel
menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di
tiap perahu.
Dari
kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan
umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya
perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.
Iring-iringan
berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan.
Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak.
Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu.
Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan
ombak.
Begitu
sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka
berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati
sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih
malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh
nelayan Muncar.
Dari
Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat
ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya
lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung
pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung
Sembulungan.
Selesai
larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai Sembulungan. , ke
Makam Sayid Yusuf, beliau adalah orang pertama yang membuka daerah
tersebut. Disinilah biasanya tari Gandrung dan gending-gending klasik
suku Using di pentaskan, hingga sore hari. Di tempat ini para nelayan
juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan dan doa bersama.
Ritual
petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan.
Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung
Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan
dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan
penari Gandrung. Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut
dan mendampingi sesaji tidak gampang dan melalui seleksi khusus.
Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun
berikutnya akan diganti Gandrung lain.
Di
sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi
gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan
suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung
ikut menari di atas perahu.
Biasanya
sepulang pulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di
guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang
Iwak, sebagai Dewi laut.
Selain di Muncar, nelayan di pantai Grajagan, Pancer, dan Bulusan juga menggelar ritual petik laut pada Muharam.
http://www.thejakartapost.com/files/images/1iman3.jpg
http://banyuwangikab.go.id/images/2011/berita/petik%20laut%202.jpg
FESTIVAL KUWUNG DI BANYUWANGI
Festival Kuwung Banyuwangi tahun ini rencananya akan digelar pada tanggal 21 Desember 2013.Selama ini, festival kuwung selalu ditampilkan di hari jadi Kabupaten Banyuwangi, namun pada tahun 2012 dikemas secara kolosal.Sekitar 1.000 penari, nayaga, pemain ketoprak, hingga model catwalk jalanan memeriahkan Festival Kuwung di Banyuwangi,Jawa Timur.
Mereka seblamenarikan, dan mementaskan atraksi kesenian dan upacara ritual secara medley dari depan kantor Pemkab Banyuwangi menuju alun-alun sejauh 2 kilometer. Setidaknya ada 20 jenis atraksi yang ditampilkan, mulai dari tari ritual magis ng, gemulai 200-an penari gandrung, hingga kebo-keboan yang menampilkan beberapa orang yang tubuhnya dicat hitam dan bermahkota tanduk mirip kebo liar.
Pesertanya adalah masyarakat Banyuwangi sendiri dari berbagai kecamatan. Di Banyuwangi, sanggar-sanggar kesenian memang hidup. Anak-anak hingga sesepuh warga biasa berkesenian. Selain menghidupkan kesenian, festival budaya juga diharapkan bisa menarik wisatawan datang ke Banyuwangi.
sumber: http://data.seruu.com/images/seruu/article/2012/12/20/kuwung.jpg
http://www.greatindonesia.com/newsfile/Festival-Kuwung-01_large.jpg
FESTIVAL NGOPI BARENG SEPULUH EWU BANYUWANGI
BANYUWANGI – Kampung adat Osing Kemiren, menjelma menjadi lautan kopi, Minggu malam Kemiren Ribuan masyarakat menyemut menghadiri Festival Ngopi Sepuluh Ewu Kopi. Ngopi gratis itu berlangsung di sepanjang jalan utama desa tersebut. Masing-masing rumah yang berdiri di sepanjang jalan desa adat Banyuwangi itu membuat pondok mirip kopi, lengkap meja, kursi, lengkap teko dan cangkir berisi kopi seduhan yang masih panas.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu Kopi, di desa adat Suku Using menyajikan kopi dan aneka jajanan pelengkap kopi gratis untuk semua pengunjung. Siapapun yang berkunjung ke Desa Kemiren malam itu dipersilahkan meminum kopi trasidional kebanggaan masyarakat setempat secara Cuma-Cuma alias gratis. Tidak hanya menyajikan minuman kopi, masyarakat Kemiren juga menyuguhkan makanan dan jajanan khas seperti rengginang, keripik gadung, ketan, pisang rebus, serabi, lanun, lopis dan klemben (bolu kering khas Banyuwangi).
Kopi untuk sepuluh ribu cangkir ini sudah disiapkan sejak beberapa hari lalu. Bahkan untuk memasak sajian yang disuguhkan masyarakat telah menyiapkan mulai jam 7.00 Wib. “Isun mulai nyiapaken kopai lan jajanan ikiae mulai wesuk, yo mung kanggo para acara ngopi bareng,” kata Inayah, warga Kemiren.
Festival ngopi ide diinisasi dari kebiasaan ngopi warga Kemiren sebagai cara mempererat jalinan silahturahmi antar masyarakat using yang sudah terkenal keramahan dan keluwesannya. Sekali seduh kita semua bersaudara. Begitu kira-kira untuk mengungkapkan filosofi dalam festival Ngopi Sepuluh Ewu ini. “Saya bangga warga Using sekarang ini dikenal masyarakat dan budaya kami dicintai,”kata Asamat.
Acara ngopi sepuluh ewu semakin semarak dengan hadir Bupati Abdullah Azwar Anas, yang ikut dalam festival ini dengan berjalan kaki dari pintu masuk desa Kemiren hingga ke Balai Desa Kemiren. Sambil menyapa dan menyalami satu persatu warga, Bupati Anas juga mampir ke setiap kedai kopi depan rumah warga untuk mencicipi jajanan di festival ini. “Warga Kemiren memang suka sedekah tak heran meski sudah tua warga Kemiren masih tampak sehat-sehat,” puji Bupati Anas.
Festival ngopi ini merupakan contoh mempertahankan tradisi gotong royong. “Kalau tradisi ini diikuti warna Banyuwangi secara keseluruhan dan masyarakat Indonesia, pasti tidak pernah ada salah paham. Semua bisa diselesaikan dengan duduk bareng,” kata Bupati Anas. Partisipasinya warga Kemiren luar biasa. (Humas Protokol)
sumber:https://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/s320x320/e3
BANYUWANGI BEACH JAZZ FESTIVAL
Banyuwangi Beach Jazz Festival (BBJF) adalah pertunjukan musik yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan seni, budaya, dan olah raga Kota Banyuwangi, yang dikenal sebagai BANYUWANGI FESTIVAL serta untuk memperingati hari jadi Kabupaten Banyuwangi yang jatuh pada tanggal 18 Desember 2014. BBJF 2014 akan diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2014, dan sama seperti tahun sebelumnya pertunjukan akan dilaksanakan di lokasi kawasan Pantai Boom Banyuwangi.
sumber: http://cdn.sindonews.net/dyn/960/photos/2014/12/07/10222/36376_large.jpg
http://gigsplay.com/wp-content/uploads/2014/12/jazzpantai-657x360.jpg
Oke guys sebenernya masih banyak sekali tentang ulasan festival taunan di SUN RISE OF JAVA tapi apabila kalian mau tau lebih lengkapnya, ayoo buruan kunjungi Banyuwangi, but wait don't be affraid if you dissapointed with the destination in the SUN RISE OF JAVA.













Tidak ada komentar:
Posting Komentar