THIS IS ME

Rabu, 16 September 2015

Sun Rise Of Java


Sun Rise of Java adalah nama lain dari kota paling ujung timur di pulau jawa yaitu BANYUWANGI di sini saya akan memperkenalkan tentang semua kebudayaan makanan tempat wisata dan kelebihan lainya yang ada di Banyuwangi. Karena saya berasal dari Banyuwangi maka saya akan mengeksplor total tentang kabupaten ini.

 

KEBUDAYAAN DARI BANYUWANGI



TARI GANDRUNG 

Tari penyambutan selamat datang di Banyuwangi. Awalnya tarian ini dibawakan oleh seorang laki-laki namun seiring perkembangan jaman tarian ini bawakan oleh perempuan karena kaum hawa banyak yang tertarik untuk membawakan tarian ini dan dibawah ini adalah contoh gambar dari penari gandrung

Sebenarnya tarian di Banyuwangi ada banyak seperti : sabuk mangir, jaran goyang, rodath si'iran, cengkir gading.
 sumber :http://img.jakp.st/new/trvl/pn522/YMp5vxWZ3Uyg4lGc/6hqozr11010k4s4cw08gk8gsc.JPG
https://puetraghiel.files.wordpress.com/2014/02/gandrung3.jpg

BANYUWANGI ETNHO CARNIVAL 

BEC adalah festival budaya yang digelar taunan di Banyuwangi, berikut adalah contoh gambar dari pagelaran BEC tahun lalu.





 sumber : http://img.jakp.st/new/trvl/pn522/YMp5vxWZ3Uyg4lGc/6hqozr11010k4s4cw08gk8gsc.JPG
http://img.jakp.st/new/trvl/pn522/YMp5vxWZ3Uyg4lGc/6hqozr11010k4s4cw08gk8gsc.JPG  



KEBO-KEBOAN


  Ritual yang meminta berkah keselamatan sebelum memulai musim tanam padi itu dimulai berbagai persiapan seperti memasang pintu gerbang terbuat dari hasil bumi, hingga menanam segala jenis pohon di tengah jalan. Tanaman inilah yang akan dilewati kerbau jadi-jadian. Pohon ditanam di sepanjang jalan menuju empat arah mata angin yang mengelilingi desa.

   Bermacam tanaman hasil bumi menghiasai di tiap jalan kampung,  sebagai simbol ungkapan syukur kepada penguasa alam Untuk mendapat kesan suasana persawahan, jalan desa pun dialiri air yang berasal dari sungai setempat. 12 tumpeng, simbol waktu perputaran kehidupan manusia yang disajikan dinikmati bersama-sama.
  Berbagai pernik ornamen hiasan sudah terpajang, umbul-umbul, killing (baling-baling kicir angin), paglak (dangau tinggi di tengah sawah) terlihat megah di hamparan sawah dengan latar belakang Pegunungan Raung, Ijen, dan Gunung Merapi. Semua warga desa sudah siap dengan kue tradisional serta sesaji untuk upacara ritual. Hampir semua orang tampak anggun dengan busana adatnya.

   Warga menyambut ritual ini mirip perayaan hari raya. Hari pelaksanaan upacara dihitung menggunakan kalender Jawa kuno. Biasanya kepastian itu diputuskan para sesepuh adat. Pada hari pelaksanaan, seluruh warga membuat tumpeng ayam.

Sesajen ini dimasak secara tradisional khas suku Using, yakni pecel ayam, daging ayam dibakar dan dicampur urap kelapa muda.

    Menjelang siang hari, warga berkumpul di depan rumah masing-masing. Beberapa orang bergerombol di pusat desa bersama para pejabat dan undangan. Dipimpin sesepuh adat, warga berdoa menggunakan bahasa Using kuno. Usai berdoa, warga berebut menyantap tumpeng yang diyakini mampu memberikan berkah keselamatan.





sumber:https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi4PGNSUeaMZF8YLltLSBgb6d8Xjcksnwv46WSVzCH9ysC5iYIP-7Ex4J5NmkI0KOZ6QSaICmBQrB3dyb_lswbk20qRWyGdcibzZZ5PMmaCjg-MdjBnOawS3cIWzHuhV68fyxz0a4WajQff/s1600/kebo-keboan+2.jpg
  PETIK LAUT

 Ritual diawali pembuatan sesaji oleh sesepuh nelayan. Mereka adalah keturunan warga Madura yang sudah ratusan tahun turun-temurun mendiami pelabuhan Muncar. Disiapkan perahu kecil ( perahu sesaji ) dibuat seindah mungkin mirip kapal nelayan yang biasa digunakan melaut. Pada malam harinya, di tempat perahu untuk sesaji dipersiapkan dilakukan tirakatan. Di beberapa surau atau rumah diadakan pengajian atau semaan sebelum perahu sesaji dilarung ke laut.



   Perahu diisi puluhan jenis hasil bumi dan makanan yang seluruhnya dimasak keluarga sesepuh adat. Jenis makanan berbagai jajanan, nasi tumpeng dan buah-buahan, ditata rapi di perahu kecil tadi. Sesaji yang sudah jadi disebut gitek.



   Pada hari yang ditentukan, ratusan nelayan berkumpul di rumah sesepuh adat sejak pagi. Mereka menggunakan baju khas Madura sambil membawa senjata clurit. Menjelang siang, sesaji diarak menggunakan dokar menuju pantai. Sepanjang iring-iringan, dua penari Gandrung ikut mendampingi. Bunyi gamelan Gandrung mengalun indah.



   Nelayan menari sambil mengacungkan senjata cluritnya. Di depannya, dukun membawa abu kemenyan. Sambil melantunkan doa, dukun menyebarkan beras kuning simbol tolak bala.



   Ribuan warga berdiri di sepanjang jalan mengamati perjalanan sesaji ( ider bumi ). Begitu lewat, warga berhamburan mengikuti di belakang menuju pantai. Arak-arakan berakhir di tempat pelelangan ikan ( TPI ), yang dihadiri jajaran Muspida Banyuwangi dan pejabat setempat.



   Sesaji tiba disambut enam penari Gandrung. Setelah doa, sesaji diarak menuju perahu. Warga berebut untuk bisa naik perahu pengangkut sesaji. Namun, petugas membatasi penumpang yang ikut ke tengah.



   Sebelum diberangkatkan, kepala daerah diwajibkan memasang pancing emas di lidah kepala kambing. Ini simbol permohonan nelayan agar diberi hasil ikan melimpah.



    Menjelang tengah hari, iring-iringan perahu bergerak ke laut. Bunyi mesin diesel menderu membelah ombak. Suara gemuruh lewat sound-system menggema di tiap perahu.



    Dari kejauhan barisan perahu berukuran besar bergerak kencang. Hiasan umbul-umbul berkibar menambah suasana makin sakral. Begitu padatnya perahu yang bergerak, sempat terjadi beberapa kali tabrakan kecil.



     Iring-iringan berakhir di sebuah lokasi berair tenang, dekat semenanjung Sembulungan. Kawasan ini sering disebut Plawangan. Seluruh perahu berhenti sejenak. Dipimpin sesepuh nelayan, sesaji pelan-pelan diturunkan dari perahu. Teriakan syukur menggema begitu sesaji jatuh dan tenggelam ditelan ombak.



     Begitu sesaji tenggelam, para nelayan berebut menceburkan diri ke laut. Mereka berebut mendapatkan sesaji. Nelayan juga menyiramkan air yang dilewati sesaji ke seluruh badan perahu. "Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata Mat Roji, sesepuh nelayan Muncar.



     Dari Plawangan, iring-iringan perahu bergerak menuju Sembulungan. Di tempat ini, nelayan kembali melarung sesaji ke dua kalinya. Hanya, jumlahnya lebih sedikit. Sebuah sasaji ditempatkan di nampan bambu dilarung pelan-pelan. Konon ini memberikan persembahan bagi penunggu tanjung Sembulungan.



      Selesai larung sesaji, pesta nelayan dilanjutkan di pantai  Sembulungan. , ke Makam Sayid Yusuf, beliau adalah orang pertama yang membuka daerah tersebut. Disinilah biasanya tari Gandrung dan gending-gending klasik suku Using di pentaskan, hingga sore hari. Di tempat ini para nelayan juga mempersembahkan sesaji. Ritual diakhiri selamatan dan doa bersama.



     Ritual petik laut wajib menghadirkan dua penari Gandrung yang masih perawan. Konon, ini berkaitan ritual petik laut pertama kali di Tanjung Sembulungan. Kala itu, seorang penari Gandrung mendadak meninggal dan dimakamkan di pinggir pantai. Sejak itu, petik laut wajib menghadirkan penari Gandrung. Memilih penari Gandrung yang berani ikut ke tengah laut dan mendampingi sesaji tidak gampang dan melalui seleksi khusus. Gandrung yang ikut mengarak sesaji hanya boleh sekali diundang. Tahun berikutnya akan diganti Gandrung lain.



       Di sepanjang perjalanan, di atas perahu penari terus melenggang diiringi gamelan. Mereka melantunkan gending-gending Using. Isinya ungkapan suka-cita perayaan petik laut. Puluhan nelayan yang mengiringi gandrung ikut menari di atas perahu.



       Biasanya sepulang pulang dari sembulungan perahu nelayan yang akan mendarat di guyur dengan air laut yang di gambarkan sebagai guyuran Shang Hyang Iwak, sebagai Dewi laut.



        Selain di Muncar, nelayan di pantai Grajagan, Pancer, dan Bulusan juga menggelar ritual petik laut pada  Muharam.


http://www.thejakartapost.com/files/images/1iman3.jpg
http://banyuwangikab.go.id/images/2011/berita/petik%20laut%202.jpg

FESTIVAL KUWUNG DI BANYUWANGI

Festival Kuwung Banyuwangi tahun ini rencananya akan digelar pada tanggal 21 Desember 2013.Selama ini, festival kuwung selalu ditampilkan di hari jadi Kabupaten Banyuwangi, namun pada tahun 2012 dikemas secara kolosal.Sekitar 1.000 penari, nayaga, pemain ketoprak, hingga model catwalk jalanan memeriahkan Festival Kuwung di Banyuwangi,Jawa Timur.
Mereka seblamenarikan, dan mementaskan atraksi kesenian dan upacara ritual secara medley dari depan kantor Pemkab Banyuwangi menuju alun-alun sejauh 2 kilometer. Setidaknya ada 20 jenis atraksi yang ditampilkan, mulai dari tari ritual magis ng, gemulai 200-an penari gandrung, hingga kebo-keboan yang menampilkan beberapa orang yang tubuhnya dicat hitam dan bermahkota tanduk mirip kebo liar.
Pesertanya adalah masyarakat Banyuwangi sendiri dari berbagai kecamatan. Di Banyuwangi, sanggar-sanggar kesenian memang hidup. Anak-anak hingga sesepuh warga biasa berkesenian. Selain menghidupkan kesenian, festival budaya juga diharapkan bisa menarik wisatawan datang ke Banyuwangi.




sumber: http://data.seruu.com/images/seruu/article/2012/12/20/kuwung.jpg
http://www.greatindonesia.com/newsfile/Festival-Kuwung-01_large.jpg 

FESTIVAL NGOPI BARENG SEPULUH EWU BANYUWANGI

BANYUWANGI – Kampung adat Osing Kemiren, menjelma menjadi lautan kopi, Minggu malam Kemiren  Ribuan masyarakat menyemut menghadiri Festival Ngopi Sepuluh Ewu Kopi. Ngopi gratis itu berlangsung di sepanjang jalan utama desa tersebut. Masing-masing rumah yang berdiri di sepanjang jalan desa adat Banyuwangi itu membuat pondok mirip kopi, lengkap meja, kursi, lengkap teko dan cangkir berisi kopi seduhan yang masih panas.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu Kopi, di desa adat Suku Using menyajikan kopi dan aneka jajanan pelengkap kopi gratis untuk semua pengunjung. Siapapun yang berkunjung ke Desa Kemiren malam itu dipersilahkan meminum kopi trasidional kebanggaan masyarakat setempat secara Cuma-Cuma alias gratis. Tidak hanya menyajikan minuman kopi, masyarakat Kemiren juga menyuguhkan makanan dan jajanan khas seperti rengginang, keripik gadung, ketan, pisang rebus, serabi, lanun, lopis dan klemben (bolu kering khas Banyuwangi).
Kopi untuk sepuluh ribu cangkir ini sudah disiapkan sejak beberapa hari lalu. Bahkan untuk memasak sajian yang disuguhkan masyarakat telah menyiapkan mulai jam 7.00 Wib. “Isun mulai nyiapaken kopai lan jajanan ikiae mulai wesuk, yo mung kanggo para acara ngopi bareng,” kata Inayah, warga Kemiren.
Festival ngopi ide diinisasi dari kebiasaan ngopi warga Kemiren sebagai cara mempererat jalinan silahturahmi antar masyarakat using yang sudah terkenal keramahan dan keluwesannya. Sekali seduh kita semua bersaudara. Begitu kira-kira untuk mengungkapkan filosofi dalam festival Ngopi Sepuluh Ewu ini. “Saya bangga warga Using sekarang ini dikenal masyarakat dan budaya kami dicintai,”kata Asamat.
Acara ngopi sepuluh ewu semakin semarak dengan hadir Bupati Abdullah Azwar Anas, yang ikut dalam festival ini dengan berjalan kaki dari pintu masuk desa Kemiren hingga ke Balai Desa Kemiren. Sambil menyapa dan menyalami satu persatu warga, Bupati Anas juga mampir ke setiap kedai kopi depan rumah warga untuk mencicipi jajanan di festival ini. “Warga Kemiren memang suka sedekah tak heran meski sudah tua warga Kemiren masih tampak sehat-sehat,” puji Bupati Anas.
Festival ngopi ini merupakan contoh mempertahankan tradisi gotong royong. “Kalau tradisi ini diikuti warna Banyuwangi secara keseluruhan dan masyarakat Indonesia, pasti tidak pernah ada salah paham. Semua bisa diselesaikan dengan duduk bareng,” kata Bupati Anas. Partisipasinya warga Kemiren luar biasa. (Humas Protokol)



 sumber:https://scontent.cdninstagram.com/hphotos-xaf1/t51.2885-15/s320x320/e3


BANYUWANGI BEACH JAZZ FESTIVAL

Banyuwangi Beach Jazz Festival (BBJF) adalah pertunjukan musik yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan seni, budaya, dan olah raga Kota Banyuwangi, yang dikenal sebagai BANYUWANGI FESTIVAL serta untuk memperingati hari jadi Kabupaten Banyuwangi yang jatuh pada tanggal 18 Desember 2014. BBJF 2014 akan diselenggarakan pada tanggal 6 Desember 2014, dan sama seperti tahun sebelumnya pertunjukan akan dilaksanakan di lokasi kawasan Pantai Boom Banyuwangi. 






sumber: http://cdn.sindonews.net/dyn/960/photos/2014/12/07/10222/36376_large.jpg
http://gigsplay.com/wp-content/uploads/2014/12/jazzpantai-657x360.jpg

Oke guys sebenernya masih banyak sekali tentang ulasan festival taunan di SUN RISE OF JAVA tapi apabila kalian mau tau lebih lengkapnya, ayoo buruan kunjungi Banyuwangi, but wait don't be affraid if you dissapointed with the destination in the SUN RISE OF JAVA.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar